September 2001, Amerika Serikat (AS) diguncang serangan mendadak tepat ke jantung perdagangan dan pertahanannya, yakni menara kembar World Trade Centre (WTC) di New York, dan gedung Pentagon di Washingtob DC. Anda pasti ingat, kejadian ini berdampak begitu kuat, tidak hanya bagi AS, tapi juga bagi dunia, khususnya umat Islam dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Irak menjadi salah satu negara yang mengalami dampak paling parah, karena pemerintahan Presiden George W. Bush tak hanya menuding negara ini terkait dengan Al Qaida, organisasi yang dituding sebagai pelaku penyerangan, tapi juga dicurigai memiliki senjata pemusnah massal, sehingga diinvasi pada 2003.
Benarkah tuduhan itu? Diangkat dari memoar dan laporan ilmiah yang ditulis langsung oleh Valerie Plame, agen CIA yang memimpin operasi rahasia untuk memastikan kebenaran hal tersebut, film Fair Game yang dibintangi Naomi Watts dan Sean Penn memang bukan film main-main karena film ini membeberkan fakta di balik invasi AS ke negeri 1001 Malam yang akhirnya membuat pemerintahan Saddam Husein terguling dan presiden Irak itu digantung dengan dakwaan sebagai penjahat perang. Film ini secara blak-blakan membeberkan bahwa tudingan AS kalau Irak memiliki senjata pemusnah massal, hanya isapan jempol belaka demi 'menjajah' negara itu dan menguasai cadangan minyaknya.
Dalm film ini digambarkan, sebagai agen CIA yang gigih, ambisius, dan perfeksionis, Valerie yang diperankan Naomi Watts, sadar bahwa tugas yang diembankan George W. Bush kepada dirinya dapat berefek luas bagi dunia. Setiap hari, selama 15 jam, ia meneliti semua berkas mengenai operasi pembuatan senjata di Irak. Tak terhitung jumlah negara, sumber, serta ilmuwan Irak yang ia telusuri.
Hasilnya nihil, karena tak ada satu pun penelitiannya yang berujung pada penguatan tudingan AS terhadap Irak, meski semua ilmuwan Irak yang kabur ke berbagai negara, ia tanyai. Tak ada tabung-tabung uranium di Irak, dan juga tak ada bahan dasar senjata pemusnah massal itu, karena AS telah menghancurkannya pada awal 1990.
CIA dan Gedung Putih tak puas. Mereka lalu menggunakan Joseph Wilson, suami Valerie yang diperankan Sean Penn dan merupakan mantan duta besar AS untuk Afrika. Tugasnya adalah membuktikan informasi bahwa untuk membuat senjata pemusnah tersebut, Irak telah membeli 500.000 ton uranium dari Nigeria, Afrika Barat. Tapi hasilnya sama, bahan kimia yang disebut yellowcake itu tak ada.
Namun pemerintahan George W. Bush memutarbalikkan hasil laporan Joseph dan Valerie, karena dalam pidato akhir tahunnya, Bush mengatakan bahwa tuduhan AS terhadap Irak terbukti, karena negara itu memang membeli uranium dari Nigeria dan membuat senjata pemusnah massal. Selain itu, Valerie dipecat dari CIA.
Joseph yang akrab disapa Joe, tak tinggal diam. Dia mengirimkan artikel ke surat kabar dan membeberkan fakta yang sebenarnya, bahwa pemerintahan Bush telah berbohong. Akibatnya fatal, karena kehidupannya, juga kehidupan Valeria, kemudian menjadi hancur berkeping-keping.
Meski termasuk film berat, namun film yang dianugerahi Freedom of Expression Award dari National Board of Review ini akan memberi Anda gambaran dengan sangat lugas betapa licinnya Amerika dalam menggolkan tujuan yang ingin dicapai, karena sutradara Doug Liman berhasil mengangkat intrik-intrik politik yang menjadi ruh film ini, dengan sangat baik dan mudah dimengerti. Misalnya ketika seorang staf kepresidenan AS mempengaruhi pimpinan CIA agar mengubah laporan yang akan dibuat berdasarkan penelitian Valerie. Doug menampilkan dialog seperti ini; "Seberapa persen Anda yakin Irak tidak punya senjata? 97%? 98%? 99%? Lalu bagaimana Anda mempertanggungjawabkan kemungkinan yang 1% itu?"
Atau dialog tajam Joe dalam sebuah seminar yang berbunyi; "Siapa yang tahu berapa kali pidato Bush soal Irak dalam setahun ini?"
Jika Anda menginginkan film berkualitas untuk ditonton, rasanya sayang jika film yang diproduksi River Road Entertainment ini Anda lewatkan. (sumber; Media Indonesia)
Berita terkait, KLIK DI SINI.
Wednesday, March 9, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment